Pertemuan di Paris pada 4 Februari 2000 tersebut, lahir dari kesadaran bersama bahwa kanker telah menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar umat manusia. Sejak saat itu, setiap tanggal 4 Februari diperingati sebagai Hari Kanker Sedunia.
Peringatan ini bertujuan mempromosikan penelitian, meningkatkan kesadaran publik, memperkuat layanan bagi pasien, mendorong upaya pencegahan kanker, serta memobilisasi komunitas global untuk membuat kemajuan bersama.
Kanker adalah masalah bersama yang tidak hanya berkaitan dengan sel dan gen, tetapi juga dengan cara masyarakat hidup dan bekerja, pola konsumsi, pengelolaan lingkungan, serta ketimpangan dalam akses terhadap layanan kesehatan.
Tema Hari Kanker Sedunia 2025–2027, “Bersatu karena Keunikan” (United by Unique), menegaskan pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia. Setiap penyintas kanker membawa pengalaman yang berbeda, dipengaruhi oleh faktor biologis, sosial, ekonomi, dan budaya. Karena itu, respons terhadap kanker tidak cukup hanya bertumpu pada kemajuan medis, melainkan juga menuntut sistem kesehatan yang inklusif, adil, dan benar-benar berpihak pada manusia.
Apa itu kanker?
Merujuk World Wide Cancer Research, kanker secara sederhana dapat dipahami sebagai penyakit akibat pertumbuhan sel yang tidak terkendali. Dalam tubuh yang sehat, sel tumbuh, membelah, dan mati secara teratur sesuai kebutuhan. Proses ini diatur oleh gen yang berfungsi sebagai sistem pengendali. Ketika gen-gen tersebut mengalami kerusakan atau mutasi, mekanisme pengaturan ini dapat terganggu, sehingga sel terus membelah dan menumpuk menjadi sel abnormal.
Tubuh manusia sendiri terdiri dari triliunan sel yang bekerja secara terkoordinasi untuk menjaga fungsi jaringan dan organ. Pada kondisi kanker, keseimbangan ini rusak. Sel-sel yang seharusnya berhenti membelah atau mati justru terus berkembang, hingga membentuk massa jaringan abnormal yang dikenal sebagai tumor.
Tumor dapat bersifat jinak maupun ganas. Tumor jinak umumnya tumbuh lambat, tidak menyerang jaringan di sekitarnya, dan tidak menyebar ke organ lain. Meski demikian, dalam kondisi tertentu, seperti tumor di otak, dampaknya tetap dapat serius. Sebaliknya, tumor ganas bersifat invasif, mampu menyusup ke jaringan sehat, dan menyebar ke bagian tubuh lain. Proses penyebaran ini disebut metastasis dan merupakan salah satu alasan utama mengapa kanker berbahaya.
Tidak semua kanker membentuk tumor padat. Kanker darah, seperti leukemia, berkembang di darah dan sumsum tulang tanpa membentuk benjolan. Selain itu, kerusakan gen yang memicu kanker tidak selalu berasal dari satu faktor. Mutasi dapat terjadi secara alami seiring waktu, atau dipicu oleh paparan lingkungan seperti asap rokok, bahan kimia berbahaya, radiasi, infeksi virus tertentu, maupun faktor keturunan. Karena proses ini berlangsung perlahan dan bertahap, kanker kerap baru terdeteksi setelah berkembang selama bertahun-tahun.
Sel kanker memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya dari sel normal. Sel-sel ini dapat tumbuh tanpa sinyal biologis yang semestinya, menghindari kematian sel terprogram (apoptosis), memanipulasi sistem kekebalan tubuh, serta merangsang pembentukan pembuluh darah baru untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tumor. Karakteristik inilah yang kemudian menjadi sasaran terapi modern, seperti terapi target dan terapi anti-angiogenesis.
Secara umum, penyakit dapat timbul akibat berbagai faktor, termasuk patogen seperti bakteri, virus, dan parasit, mutasi genetik, faktor lingkungan, serta gaya hidup. Dalam kasus kanker, berbagai faktor tersebut sering saling berkelindan dalam proses yang panjang dan kompleks.
Sejarah Penyakit Kanker
Kapan penyakit kanker pertama kali muncul tidak pernah benar-benar diketahui. Yang jelas, kanker telah ada sejak sangat lama, kemungkinan bahkan sebelum manusia muncul. Para peneliti menemukan tanda-tanda kanker pada tulang dinosaurus yang hidup sekitar 70 hingga 80 juta tahun lalu.
Pada manusia, jejak kanker paling awal ditemukan pada tumor di tulang fosil dan mumi dari Mesir Kuno, sekitar 3000 tahun sebelum Masehi. Dari periode yang sama, catatan medis tertua mengenai kanker tercatat dalam Edwin Smith Papyrus. Papirus ini menggambarkan suatu kondisi yang sangat mungkin merupakan kanker payudara, disebut sebagai “tumor yang menonjol di payudara”, dengan kesimpulan bahwa penyakit tersebut tidak dapat disembuhkan.
Papirus medis Mesir lainnya, seperti Ebers Papyrus yang berasal dari sekitar 1500 sebelum Masehi, juga mencatat berbagai jenis tumor pada bagian tubuh lain. Pada masa ini, kanker dan penyakit serius lainnya kerap dikaitkan dengan kutukan atau campur tangan para dewa. Keterbatasan pengetahuan ilmiah membuat kanker dipahami lebih sebagai fenomena supranatural daripada kondisi biologis.
Istilah “kanker” sendiri mulai digunakan dalam tradisi kedokteran Yunani Kuno. Hippokrates, seorang tabib yang hidup antara 460 hingga 370 sebelum Masehi, menggunakan istilah karkinos dan karkinoma, yang berarti “kepiting”, untuk menggambarkan tumor ganas. Penamaan ini diduga merujuk pada bentuk tumor dan pembuluh darah di sekitarnya yang menyerupai kaki kepiting, atau pada sifat kanker yang seolah mencengkeram jaringan tubuh dan sulit dilepaskan. Istilah tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin menjadi cancer dan digunakan hingga kini.
Perkembangan penting dalam pemahaman kanker terjadi seiring munculnya pendekatan ilmiah pada abad ke-17 hingga ke-19. Pembedahan anatomi dan praktik diseksi memungkinkan pengamatan langsung terhadap perubahan struktur jaringan tubuh. Para ilmuwan mulai memahami bahwa kanker bukan akibat ketidakseimbangan cairan tubuh atau proses mistis, melainkan berkaitan dengan perubahan fisik pada jaringan dan sel. Pada periode ini pula, hubungan antara faktor lingkungan dan kanker mulai dikenali.
Memasuki akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, pemahaman tentang kanker berkembang pesat. Penemuan sinar-X membuka kemungkinan diagnosis yang lebih akurat, sementara teori seluler dan genetika mulai menjelaskan kanker sebagai penyakit akibat gangguan pembelahan sel.
Kondisi Dunia
Penyakit kanker masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di seluruh dunia. International Agency for Research on Cancer (IARC) di bawah World Health Organization (WHO) memproyeksikan bahwa jumlah kasus kanker global akan meningkat lebih dari 75 persen pada tahun 2050.
Proyeksi tersebut didasarkan pada studi berbasis populasi yang mencakup 36 jenis kanker di 185 negara dan wilayah. Pada 2050, jumlah kasus kanker baru diperkirakan mencapai 35,3 juta, meningkat 76,6 persen dibandingkan estimasi tahun 2022 yang sekitar 20 juta kasus. Pada periode yang sama, kematian akibat kanker diproyeksikan mencapai 18,5 juta, atau naik 89,7 persen dari sekitar 9,7 juta kematian pada 2022.
Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah diperkirakan mengalami peningkatan proporsional paling tinggi. IARC mencatat bahwa kasus dan kematian akibat kanker di negara-negara dengan Indeks Pembangunan Manusia (HDI) rendah hampir tiga kali lipat pada 2050.
Di banyak negara berkembang, perubahan gaya hidup, meningkatnya paparan risiko lingkungan, serta penuaan populasi berlangsung cepat, sementara kapasitas layanan kesehatan, mulai dari skrining hingga pengobatan, masih terbatas. Ketimpangan ini tercermin jelas pada angka kematian. Lebih dari dua pertiga kematian akibat kanker terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, menunjukkan kesenjangan besar dalam akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas dan berkelanjutan.
Dari sisi jenis penyakit, IARC mencatat bahwa sepuluh jenis kanker menyumbang sekitar dua pertiga kasus baru dan kematian akibat kanker secara global pada 2022. Kanker paru-paru merupakan kanker paling umum di dunia dengan 2,5 juta kasus baru, atau lebih dari 12 persen dari seluruh kasus. Penyakit ini juga menjadi penyebab utama kematian akibat kanker, dengan 1,8 juta kematian atau 18,9 persen dari total kematian kanker.
Kanker payudara pada perempuan menempati peringkat kedua dengan 2,3 juta kasus atau 11,6 persen dari total kasus baru, namun menyumbang 6,9 persen kematian akibat kanker. Jenis kanker lain yang juga umum ditemukan adalah kanker kolorektal, prostat, dan lambung. Dari sisi mortalitas, kanker kolorektal menjadi penyebab kematian akibat kanker terbesar kedua, diikuti kanker hati, payudara, dan lambung.
Sementara itu, kanker serviks berada pada peringkat kedelapan sebagai kanker paling umum di dunia dan menjadi penyebab kematian akibat kanker kesembilan. Kanker ini juga merupakan jenis kanker paling umum pada perempuan di 25 negara, yang sebagian besar berada di kawasan Afrika sub-Sahara.
Temuan lain berasal dari Global Burden of Disease Study Cancer Collaborators yang dipublikasikan di The Lancet. Studi tersebut menunjukkan bahwa faktor risiko perilaku menjadi penyumbang terbesar kematian akibat kanker di semua tingkat pendapatan negara. Penggunaan tembakau merupakan faktor risiko utama secara global, menyumbang sekitar 21 persen kematian akibat kanker. Di negara-negara berpendapatan rendah, faktor risiko terbesar justru hubungan seksual tidak aman, yang berkaitan dengan sekitar 12,5 persen kematian akibat kanker.
Studi ini juga menyoroti perbedaan berbasis gender. Pada 2023, sekitar 46 persen kematian akibat kanker pada laki-laki terkait dengan faktor risiko yang dapat dimodifikasi, terutama penggunaan tembakau, pola makan tidak sehat, konsumsi alkohol berlebihan, risiko pekerjaan, dan polusi udara. Pada perempuan, sekitar 36 persen kematian akibat kanker berkaitan dengan faktor risiko yang dapat dimodifikasi, dengan tembakau, hubungan seksual tidak aman, pola makan tidak sehat, obesitas, serta kadar gula darah tinggi sebagai kontributor utama.
Situasi Indonesia
Data GLOBOCAN 2022 mencatat terdapat 408.661 kasus baru kanker di Indonesia, dengan 242.099 kematian pada tahun yang sama. Tanpa penguatan upaya pencegahan dan deteksi dini, jumlah kasus kanker di Indonesia diproyeksikan meningkat lebih dari 70 persen pada 2050.
Tingginya angka kematian kanker di Indonesia tidak terlepas dari lemahnya deteksi dini. Lebih dari 70 persen kasus kanker baru terdiagnosis pada stadium lanjut, ketika peluang kesembuhan menurun drastis dan pilihan terapi menjadi semakin terbatas. Padahal, deteksi dini memungkinkan penanganan yang lebih efektif dengan harapan hidup yang jauh lebih baik.
Rendahnya deteksi dini dipengaruhi oleh minimnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Ketakutan terhadap diagnosis kanker, kurangnya pemahaman, serta hambatan sosial dan ekonomi membuat banyak orang menunda pemeriksaan hingga gejala berkembang menjadi serius. Kondisi ini memperburuk prognosis dan meningkatkan risiko kematian.
Masalah deteksi dini semakin diperparah oleh ketimpangan akses layanan kesehatan antarwilayah. Infrastruktur dan distribusi alat skrining kanker belum merata, terutama di luar Pulau Jawa dan daerah terpencil. Akibatnya, sebagian masyarakat kesulitan memperoleh layanan diagnosis dini yang memadai.
Ketimpangan tersebut juga terlihat pada ketersediaan fasilitas layanan kanker. Di sejumlah daerah, rumah sakit dengan layanan onkologi lengkap masih sangat terbatas, bahkan tidak tersedia sama sekali. Pasien kerap harus dirujuk ke rumah sakit di kota besar, menghadapi jarak tempuh yang jauh, antrean panjang, serta keterlambatan terapi yang berisiko memperburuk kondisi penyakit.
Keterbatasan layanan ini diperparah oleh minimnya tenaga medis spesialis. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan jumlah dan persebaran dokter spesialis onkologi di Indonesia masih jauh dari ideal. Indonesia hanya memiliki 139 dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi onkologi, 217 dokter spesialis bedah onkologi, 118 dokter spesialis onkologi radiasi, serta 80 dokter spesialis anak konsultan hematologi dan onkologi anak.
Dari sisi pembiayaan, pemerintah telah menerapkan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk menekan beban ekonomi pasien. Namun, sistem ini belum mampu menanggung seluruh kebutuhan pengobatan kanker. Keterbatasan dana BPJS Kesehatan membuat tidak semua obat kanker dapat dijamin, karena harus memenuhi prinsip cost-effectiveness sesuai regulasi yang berlaku.
Beban pembiayaan kanker tercermin dari data BPJS Kesehatan. Pada 2020, klaim kanker mencapai Rp 3,1 triliun, dan meningkat menjadi Rp 5,9 triliun pada 2023 dengan 3,8 juta kasus, menjadikan kanker sebagai penyakit katastropik terbesar kedua setelah penyakit jantung.
Akibat keterbatasan cakupan JKN, pasien masih harus menanggung biaya out-of-pocket yang signifikan. Penelitian The PRAKARSA (2023) menunjukkan bahwa pasien kanker paru, serviks, dan payudara menanggung biaya obat, transportasi, akomodasi, serta kebutuhan non-medis lainnya. Salah satu contoh adalah penggunaan terapi target Avastin (Bevacizumab) yang tidak dijamin BPJS untuk indikasi tertentu, dengan biaya mencapai Rp 14 juta, belum termasuk biaya non-medis sebesar Rp 5–7 juta per siklus pengobatan.
Harapan Besar
Di tengah meningkatnya jumlah kasus kanker di dunia, kemajuan ilmu kedokteran dan teknologi menghadirkan harapan. Dalam beberapa dekade terakhir, kanker yang sebelumnya kerap dipandang sebagai penyakit mematikan mulai dipahami sebagai penyakit kronis yang dapat dikendalikan, bahkan disembuhkan, terutama bila terdeteksi sejak dini.
Perkembangan teknologi medis seperti pencitraan modern, pemeriksaan biomarker, serta metode skrining yang semakin akurat memungkinkan kanker dikenali pada tahap awal, bahkan sebelum gejala berat muncul. Deteksi dini terbukti sangat meningkatkan keberhasilan pengobatan sekaligus menurunkan angka kematian.
Salah satu terobosan besar dalam pengobatan kanker adalah imunoterapi. Berbeda dengan kemoterapi yang menyerang sel kanker sekaligus sel sehat, imunoterapi bekerja dengan membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan menghancurkan sel kanker secara lebih spesifik dan alami.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine menunjukkan bahwa imunoterapi efektif melawan beberapa jenis kanker. Studi ini melibatkan 117 pasien dengan berbagai kanker padat yang memiliki kelainan genetik tertentu, yaitu defisiensi mismatch repair (dMMR). Para pasien menerima imunoterapi dostarlimab selama enam bulan dan dipantau hingga dua tahun.
Hasilnya, sekitar 80 persen pasien tidak memerlukan operasi, kemoterapi, atau radioterapi tambahan, dan 92 persen tetap bebas kanker setelah dua tahun. Pada pasien kanker rektal, hampir seluruhnya dapat menghindari operasi besar yang selama ini menjadi pengobatan standar. Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektivitas jangka panjang.
Selain imunoterapi, terapi CAR-T juga menunjukkan kemajuan besar. Terapi ini dilakukan dengan mengambil sel kekebalan tubuh pasien, memodifikasinya agar mampu mengenali dan menyerang sel kanker, lalu memasukkannya kembali ke dalam tubuh. Saat ini, CAR-T paling efektif untuk kanker darah seperti leukemia, meskipun biayanya masih sangat mahal dan proses terapinya kompleks.
Peran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga semakin penting dalam penanganan kanker. Teknologi ini telah mampu mendeteksi kanker otak dan kanker payudara dari hasil pencitraan medis dengan tingkat akurasi yang setara, bahkan dalam beberapa kasus melampaui tenaga medis manusia.
Pada Mei 2023, peneliti dari Harvard University dan University of Copenhagen melaporkan dalam jurnal Nature Medicine bahwa AI dapat mengidentifikasi individu dengan risiko tinggi kanker pankreas jauh sebelum gejala muncul. Temuan ini sangat penting karena kanker pankreas kerap terdeteksi pada stadium lanjut, memiliki tingkat kematian yang tinggi, dan hingga kini belum memiliki metode skrining rutin untuk populasi umum.
Selain pengobatan, vaksin juga terbukti efektif dalam mencegah kanker. Vaksin HPV telah melindungi jutaan perempuan dari kanker serviks, sementara vaksin hepatitis B berperan besar dalam pencegahan kanker hati. Kini, teknologi vaksin mRNA yang sebelumnya digunakan dalam penanggulangan Covid-19 mulai dikembangkan sebagai vaksin kanker yang bersifat personal dan disesuaikan dengan profil genetik pasien.
Namun, kemajuan terbesar dalam penanggulangan kanker bukan semata terletak pada kecanggihan teknologi. Harapan sejati bergantung pada kemampuan negara dan masyarakat untuk memastikan bahwa seluruh inovasi ini dapat diakses secara adil oleh semua orang, bukan hanya oleh segelintir kelompok yang memiliki sumber daya. (LITBANG KOMPAS)
Sumber : https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparan-topik/hari-kanker-sedunia-2026-bersama-kita-bisa-lawan-kanker?track_source=kompaspedia-paywall&track_medium=login-paywall&track_content=https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparan-topik/hari-kanker-sedunia-2026-bersama-kita-bisa-lawan-kanker
02 Feb 2026
kesehatan